Banyaknya keluarga keluarga di Indonesia luluh lantak hancur tak berkeping akibat pinjaman online, mengusik nurani kita belakangan ini.
Berita tentang satu keluarga yang ditemukan bunuh diri di Ciputat beberapa waktu lalu sangat membuat kita tercengang. Bagaimana tidak, keluarga ini dikenal harmonis. Tidak terlihat susah atau mengeluh kekurangan. Bahkan beberapa waktu lalu mereka bersama menghabiskan waktu luangnya di suatu tempat rekreasi di Jakarta.
Diduga kepala keluarga terlibat pinjaman online dan kemungkinan besar tidak kuat menanggung beban intimidasi penagih utang.
Jika ini benar motifnya karena pinjaman online maka bertambah panjanglah barisan keluarga yang hancur karena beban pinjaman instan ini.
Banyak sudah kepala keluarga yang terlibat dalam praktik ini. Beberapa istri juga mengalami stres dan nekat bunuh diri karena terlibat hutang. Anak-anak tak berdosa juga ikut menanggung derita akibat pinjaman online yang belum tentu dimengertinya. Ikut habis bersama orang tuanya. Sungguh diluar nalar.
Apakah ini kegagalan pemerintah dalam melindungi warganya dari pinjaman online ilegal? Atau memang disengaja? Tidak ada yang tahu. Sudah seharusnya pemerintah melarang semua jenis pinjaman online yang tidak memiliki manfaat sama sekali.
Tapi setiap hari penawaran dari pinjaman online ini begitu nekat dan masif, begitu mudah menjerat korban yang berperilaku blangsak (konsumtif). Sangat miris.
Pola pikir materialistis terus menjangkit. Perilaku blangsak (konsumtif) juga melekat karena godaan iklan yang menyesatkan. Perasaan gengsi mendominasi. Haus akan materi hingga hutang pun dianggap solusi.
Berapa nyawa lagi akan menjadi korban, di tengah keadaan ekonomi yang tidak menentu.
Haruskah rakyat berjuang sendiri, hingga yang tak kuat menyerah mengakhiri hidupnya. Kalau memang kami harus berjuang sendiri, jangan pernah mengutip segala apapun yang kami miliki. Pajak?

Komentar
Posting Komentar